Kamis, 03 Mei 2012

dominasi boyband dan girlband di indonesia yang minim kualitas

Sekelompok penyanyi yang sekaligus memilki bakat sebagai seorang penari, mungkin itulah syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang yang ingin berada dalam suatu kelompok bernyanyi yang dinamakan Boyband/Girlsband. Fenomena boyband dan girlsband di Indonesia sendiri mulai menyeruak bak jamur dimusim hujan. Sekitar akhir tahun 2010, industri music Indonesia kedatangan sebuah kelompok musik baru, sebut saja boyband yang berembel-embel dengan  nama boybang SM*SH (Seven Men as Seven Heroes) lengkap dengan aksi dan plagiarisme ala Korean Pop style, boyband ini kemudian mengingatkan kita kembali kepada boyband yang popular di negerinya , sebut saja Super Junior, dengan demikian banyak sekali cercaan dari pengamat music di Indonesia, walaupun begitu ada juga pihak yang pro dan kontra terhadap munculnya genre band baru di industri musik Indonesia.
Sebenarnya, fenomena boyband dan girlsband ini sudah dimulai sejak awal tahun 90’an, masih ingatkah kalian dengan Backstreet Boys dan Sugababes, Westlife, Destiny’s Child, Boyzone, Spice Girls, merupakan boyband dan girlsband yang Berjaya pada masa itu, tetapi di era 2000’an mulai memasuki masa-masa redupnya dengan  berbagai konflik intern dalam suatu kelompok tersebut, wajar saja sebab masing-masing anggota memiliki watak, bakat, dan norma sendiri dalam menentukan masa depan karir masing-masing, yang kemudian dominasi boyband dan girlsband perlahan mulai tenggelam dan disingkirkan oleh penyanyi solo dan band-band cadas. Lalu mengapa Indonesia kembali mencoba menerapkan konsep boyband dan girlsbands disaat negera lain mulai meninggalkan format lama tersebut.
Tahun 2011 merupakan masa kejayaan boyband dan girlsband di Indonesia, sebab setelah SM*SH yang notabene sebagai pencetus trendsetter boyband, barulah kemudian muncul boyband-boyband lain dengan format dan jumlah anggota yang beragam, bahkan ada juga yang merekrut salah satu peranakan korea asli sebagai salah satu anggota di boysband tersebut. Hal ini yang kemudian mengindikasikan bahwa dominasi boyband dan girlsband di Indonesia berkiblat pada perkembangan boysband dan girlsband di Korea, belum cukup boysband, generasi perempuan mulai mengembangkan emansipasi dan eksistensinya didalam grup yang dinamakan Girlsband, sebut saja Cherrybelle dan 7icons, selain menampilkan sisi manja dengan karakter serta skill dance yang pas-pasan, mereka mencoba peruntungannya di Industri Musik tanah air, dan cukup diterima oleh pasar musik, terutama pasar musik yang para penikmatnya tuli akan kualitas dan nilai intrinsic suatu musik.
Selain bernyanyi, para anggota Boyband dan Girlsband ini merambah profesi ke dunia akting, sangat klise sekali memang jika dibandingkan dengan anggota boysband dan girlsband Korea yang juga merangkap dibidang selain tarik suara. Bukankah seharusnya Boysband dan Girlsband ini harus berkaca terlebih dahulu sebelum memasuki dunia entertainment yang lebih lanjut.
Jika dibandingkan dengan Boysband maupun Girlsband di Korea dengan Indonesia, kualitas Boysband dan Girlsband di negeri gingseng tersebut jelas lebih mumpuni. Sebut saja duo raksasa Boyband dan Girlsband yang memiliki pengaruh sangat kuat di Negara Korea maupun di Negara lain, Super Junior dan Girls Generation (SNSD) yang memiliki kemampuan bernyanyi dan kemampuan menari bahkan akting yang tidak diragukan lagi.
Sebelum melempar boysband dan girlsband tersebut ke pasar music, di negeri Korea sebelumnya pihak manajemen melakukan audisi terlebih dahulu kepada calon-calon anggota band yang akan diorbitkan. Peserta yang lolos audisi kemudian dilatih atau di training terlebih dahulu dibidang tarik suara (vocal), menari, dan akting , ada yang hanya beberapa bulan, bahkan ada juga yang sampai bertahun-tahun. Hasil dari latihan ini jelas akan menghasilkan output member band yang berkualitas secara individual dan pastinya tidak akan dipandang sebelah mata oleh publik secara luas.
Beberapa waktu yang lalu saya sangat miris mendengar bahwa Cherry Belle dijuluki sebagai Girls Generationnya Indonesia, dan anggota Cherry Belle sendiri sangat bangga mendapatkan julukan tersebut. Saya bukannya meremehkan, bagaimana bisa Girlsband yang kiprahnya baru seumur jagung dengan kualitas yang masih jauh dibawah standar disandingkan dengan Girlsband yang jelas-jelas lebih dikenal di mata Internasional bahkan dengan talenta yang luar bisa, bukan hiperbola atau apa, satu orang member Girls Generation saja tidak sebanding dengan sepuluh anggota Cherry Belle.
Jadi, secara spesifik saya ingin mempertanyakan apakah Boysband dan Girlsband di Indonesia memiliki kans untuk masuk ke pasar Internasional? Bahkan penyanyi senior Indonesia saja yang sudah bertahun-tahun merencanakan untuk Go International hingga sekarang belum dapat merealisasikannya secara penuh.
Saran saya, alangkah baiknya sabagai pihak home production atau pihak pengorbit boysband dan girlsband di Indonesia terlebih dahulu melatih secara maksimal kemampuan masing-masing personil hingga matang dan memiliki kualitas secara individualis, bukan hanya mengikuti tren pasar hingga melemparkan grup-grup tidak berkualitas dengan modal hanya pada tampang saja. Bandingkan dengan Girls Generation yang masing-masing anggotanya dilatih bertahun-tahun bahkan untuk biaya pelatihan masing-masing personil saja mencapai sekitar Rp 27 milyar, tetapi pengorbanan tersebut tidak seberapa dibandingkan dengan hasil dan kualitas yang akan ditunjukkan.
Demikian kiranya celoteh saya, saya hanya khawatir dimasa yang akan dating, kualitas musik di Indonesia akan semakin menurun dan hanya dipenuhi oleh Boysband dan Girlsband sampah yang hanya numpang lewat saja kemudian digantikan oleh generasi lain, melihat keadaan band-band musik berkualitas Indonesia yang mulai redup seperti Padi dan Dewa 19.
Boysband dan Girlsband boleh saja dibentuk dan mendominasi, asal tiap-tiap band memilki karakteristik dan kualitas tersendiri tidak hanya asal jadi dan menjiplak satu sama lain dengan cara yang sangat tidak kreatif. Salam kompasiana.

Selasa, 01 Mei 2012

boyband dan girlband di indonesia, adakah yang melarang?

Industri musik di Indonesia belakangan ini sangat didominasi oleh boyband dan girlband yang mungkin sudah tidak dapat dipungkiri semua masyarakat di Indonesia. Mungkin semua juga setuju bahwa fenomena ini dipelopori oleh salah satu boyband yang kini telah menjadi salah satu boyband terdepan di Indonesia, SM*SH atau mudahnya kita sebut saja Smash. Boyband-boyband dan juga girlband-girlband Korea yang sebelumnya telah mulai menembus dunia internasional bahkan Hollywood seperti Super Junior (SuJu), Big Bang, Shinee, Girls Generation (SNSD), After School, Wonder Girls dan lain-lain inilah yang telah menginspirasi ketujuh anak pemuda itu untuk membentuk boyband bernama “SM*SH” dengan konsep boyband Korea. Smash perlahan tapi pasti mulai menunjukkan eksistensinya di dunia music tanah air. Entah terinspirasi atau latah dengan kesuksesan yang diperoleh SMASH, banyak boyband lain yang bermunculan seperti Dragon Boyz, XO-IX dan lain-lain. Belakangan muncul 7icons yang mungkin bisa dibilang sebagai girlband pertama yang muncul di Indonesia. Tren girlband bahkan telah membuat mantan artis cilik, Tina Toon mungkin tergiur membuat sebuah girlband bernama Tina with D’girl. Namun sepertinya hanya SM*SH dan 7icons yang selama paruh pertama tahun 2011 telah berhasil membius masyarakat Indonesia. Kesuksesan kedua group band yang berkonsep Korea itu seperti menggeser tren musik-musik melayu yang selama beberapa tahun belakangan ini telah merebut hati masyarakat Indonesia. Juni 2011 sebuah girlband baru bernama Cherrybelle melakukan debut dan hanya dalam kurun waktu kurang lebih 6 bulan telah sukses merebut hati masyarakat Indonesia dengan ciri khas mereka yang cantik, imut dan ceria. Mungkin hampir seluruh masyarakat Indonesia setuju dengan opini yang mengatakan bahwa SM*SH, Cherrybelle dan 7icons adalah 3 boyband dan girlband teratas di Indonesia saat ini.
Sebuah fenomena sudah pasti akan memunculkan banyak opini, dan opini tersebut tentu juga akan mengundang banyak kritik. Yang paling anyar mungkin adalah adanya kontroversi dari lagu “Best Friend Forever” (milik Cherrybelle yang diisukan memplagiat lagu “Kissing You” dari girlband fenomenal asal Korea, Girls Generation atau yang lebih dikenal dengan sebutan SNSD. Jujur saja, saya adalah penggemar dari SNSD dan kebetulan baru-baru ini saya menjadi penggemar dari Cherrybelle dengan beberapa alas an. Saya jujur saja terkejut dengan adanya berita tersebut, hal pertama yang saya lakukan adalah membrowsing internet dan berhasil menemukan salah satu video :
http://www.youtube.com/watch?v=9lXxZ...eature=related
sebelum melihat perbandingan tersebut jujur saja saya belum mengetahui kedua lagu tersebut, ya walaupun penggemar tapi saya bukanlah fanatik, saya hanya menyukai beberapa lagu dari mereka saja. Entah disengaja atau tidak nada intro dan reff dari kedua lagu tersebut bahkan dapat dibilang sangat sama. Jujur saya awalnya kecewa dan saya sangat berharap pihak Cherrybelle dapat memberikan keterangan yang jujur tentang kontroversi ini. Saya sangat kecewa namun saya tidak dapat membenci apa yang telah saya kagumi, jujur saya akan terus mendukung mereka apapun hasilnya nanti, mungkin dengan adanya kejadian ini, (jika mereka memang dengan sengaja meniru lagu “Kissing You” tersebut) dapat menjadi batu sandungan bagi kemajuan karir mereka untuk sadar dan mereka dapat berkarya yang lebih baik lagi kedepannya.
Masih berhubungan dengan kontroversi, saya juga ingin membahas tentang isu yang mengatakan bahwa boyband dan girlband Indonesia adalah plagiat yang tidak bermutu. Bahkan saya sempat membaca di twitter ada yang mengatakan “kenapa harus ada boyband dan girlband Indonesia??” saya membaca timeline twitternya dan isinya sebagian besar menghina boyband dan girlband Indonesia. Saya juga banyak melihat forum-forum dengan komentar-komentar yang isinya penuh dengan kritikan. Bagi saya, kritikan sangatlah diperlukan apalagi dalam sebuah industri musik, kritikan yang baik adalah kritikan yang dapat menyadarkan dan membangun sesuatu untuk memperbaiki diri dan menjadi lebih lagi. Namun di forum-forum tersebut komentar dan kritik yang ada hanyalah hinaan dan cercaan yang bahkan menurut saya itu terlalu kasar. Saya merasa malu sebagai generasi muda di Indonesia apakah ini wajah dari bangsa Indonesia sesungguhnya? Bagaimana jika dunia melihat? Di forum itu saja saya telah melihat ada seorang Malaysia yang berkomentar penuh tawa berkata bahwa orang-orang Indonesia adalah orang yang sangat tidak berpendidikan dan bisanya hanya mencerca dan menghina saja. Di satu sisi untuk pertama kalinya saya setuju dengan perkataan orang Malaysia itu namun di satu sisi saya tidak setuju jika dia menujukan kalimat tersebut untuk seluruh masyarakat Indonesia, karena menurut saya kalimat itu hanya pantas ditujukan bagi para pengkritik tidak bertanggung jawab di forum-forum tersebut. Opini saya, apakah ada aturan tertulis di industri musik Indonesia yang melarang adanya boyband dan girlband di Indonesia? Memang awalnya saya merasa aneh kenapa banyak yang meniru konsep-konsep music Korea seperti itu, namun jika boyband dan girlband Indonesia menjadikan industri musik Korea sebagai inspirasi mereka untuk berkarya saya rasa tidak ada salahnya. Jika masyarakat ingin berpendapat pun saya rasa juga sah-sah saja karena kritik adalah salah satu hal terbaik untuk menjadi lebih baik lagi namun jika kritik tersebut sudah menjurus kearah kasar, mencerca dan bahkan mengata-ngatai dengan kata-kata yang tidak manusiawi itulah yang menurut saya sebagai “hal yang membuat malu bangsa kita” bukankah kita adalah bangsa yang bermartabat, kawan-kawan? Membandingkan boyband dan girlband Indonesia dengan boyband dan girlband Korea jelas wajar saja, jika ada sesuatu yang telah dianggap identik dan muncul hal yang serupa – di kasus ini adalah fenomena boyband dan girlband- pasti dua hal tersebut akan dibandingkan baik secara ringan ataupun secara kritis. Kualitas boyband dan girlband Indonesia jelas masih kalah kelas jauh dengan boyband dan girlband Korea yang bahkan sudah mulai merebut perhatian dunia. Namun apa salahnya jika anak-anak muda Indonesia ingin berkarya dengan inspirasi mereka sendiri–sendiri –dalam kasus ini inspirasi mereka adalah boyband dan girlband Korea- daripada banyak generasi muda yang menganggur dan menghabiskan waktu mereka dengan narkotika dan pergaulan yang tidak karuan, lebih baik kita sebagai generasi muda bisa mencontoh apa yang mereka jalani, lagipula itu bermanfaat baik bagi karir dan kehidupan mereka juga untuk hiburan bagi masyarakat Indonesia. Lepas dari kontroversi yang ada, saya pernah mendengar bahwa “hampir semua karya manusia alaminya berawal dari mencontoh dan inspirasi.” Sukses selalu dimulai dari nol dan proses untuk menjadi baik selalu tidak mudah. Maju terus industri musik Indonesia.

sunny sang juara boyband dan girlband

Setelah bertarung sengit pada malam puncak Grand Final Boy & Girl Band Indonesia yang digelar SCTV dan disiarkan langsung dari studio 5 Indosiar, Jakarta Barat, Sabtu (11/2) malam, Sunni akhirnya keluar sebagai juara.

Girl band berjilbab asal Gresik, Jawa Timur ini berhasil menyisihkan dua lawannya, Raise dan Sugar Free. Selain didasarkan atas penilaian dewan juri, Sunni unggul dengan perolehan dukungan terbanyak dari pemirsa SCTV sebanyak 35,12 persen, disusul Raise 32,97 persen dan Sugar Free 31.91 persen.

"Kami benar-benar tidak menyangka bisa memenangkan ajang Boy & Girl Band Indonesia. Ini seperti mimpi, karena dari awal kami melihat persaingannya ketat, kami sempat deg-degan," ujar Rina Fuziyah Zulfa salah satu personil Sunni.

Atas kemenangan tersebut, Girl Band Sunni berhak mendapatkan uang tunai sebesar Rp 100 juta dan akan dibuatkan album lengkap dengan manajemen artisnya. Selain itu mereka akan menjadi pengisi acara di program-program musik SCTV.

Penyerahan hadiah secara simbolis diserahkan oleh Harsiwi Achmad, Direktur Program SCTV. Harsiwi berharap, pemenang Boy & Girl Band Indonesia mampu menjadi penegas momentum tren boy band dan girl band di Indonesia. Sebagai penyelanggara, pihaknya mengaku bangga bisa menjadi bagian penting dalam penciptaan tren musik di tanah air.

Puncak acara Grand Final Boy & Girl Band Indonesia ini juga dimeriahkan oleh , , , , dan Smash, serta dipandu host , dan Ruben Onzu.

demam boyband dan girlband di indonesia

Kawan Remaja pasti sudah tahu kan kalau di Indonesia sekarang ini lagi eksis banget yang namanya boyband dan girlband ???
Boyband dan girlband yang banyak dinikmati dan digemari terutama oleh kalangan remaja ini, awal mulanya berasal dari Amerika dan negara – negara Asia Timur, terutama Korea dan Jepang. K-Pop alias boyband asal Korea dan Jepang disukai oleh banyak remaja mulai dari personilnya yang keren, ganteng, cantik dengan wajah oriental mereka kemudian lagu, aksi dance, gaya rambut ,  sampai style fashion mereka yang unik dianggap sebagai trendsetter masa kini. K-Pop yang booming banget di berbagai negara, termasuk Indonesia, seperti DBSK, Super Junior, Shinee, Teen Top, MBLAQ, BigBang, Girls Generation, 2PM, dan masih banyak lainnya ini memberikan efek yang cukup besar di Indonesia.
Demam K-Pop yang melanda di Indonesia  menyebabkan banyak munculnya boyband dan girlband Indonesia yang dipandang beberapa pihak dan penikmat musik di Indonesia sebagai plagiat atau ‘ tiruan’ dari K-Pop yang sedang naik daun. Jika dilihat dari berbagai sisi, memang sih harus diakui kalau boyband dan girlband Indonesia memiliki banyak kemiripan dengan K-Pop yang ada, mulai dari jumlah personil, lagu, aksi dance, gaya rambut, dan style fashion mereka. Menurutku, sebenarnya boyband dan girlband Indonesia sudah punya potensi dan bekal buat langkah mereka dalam kancah permusikan. Hanya saja, kenapa sih mereka nggak usaha buat ciptain gaya, style, dan image mereka sendiri yang lebih disesuaikan dengan budaya Indonesia. Kenapa harus mirip atau meniru K-Pop yang terkenal? Dengan meniru, entah kenapa lagu dan aksi dance yang keren dan memukau dari K-Pop jadi kurang pas dan nggak wow lagi kalo ditampilin sama boyband dan girlband di Indonesia.
Image K-Pop yang terkesan cute, centil, dan manja sebenernya juga lebih baik nggak ditiru. Kalo orang – orang Korea dan Jepang punya ciri khas tersendiri untuk boyband dan girlbandnya, seharusnya kita sebagai orang Indonesia yang lebih kaya budaya juga harus punya ciri khas tersendiri yang bisa bikin boyband dan girlband Indonesia mendapat dua acungan jempol.    Selama boyband dan girlband Indonesia masih cenderung meniru dan nggak menciptakan  sesuatu yang beda, BB dan GB Indonesia bakal susah buat bersaing dengan boyband dan girlband di penjuru dunia lainnya. Apalagi ditambah kemampuan vokal dan aksi dance yang bisa dibilang masih kalah jauh dibanding K-Pop. Menurutku, vokal dan aksi dance serta performance mereka yang kurang oke itu karena mereka adalah produk instan dari manajemen – manajemen artis dan perusahaan recording yang mengorbitkan mereka. Satu kesalahan yang juga membuat BB dan GB Indonesia mudah menurun dan menghilang namanya adalah karena performance mereka secara live yang terkadang mengecewakan para fans yang melihatnya. Belum lagi, banyak juga BB dan GB Indonesia yang lipsinc waktu tampil secara live. Hal – hal semacam itu semakin nebubjukkan kalau suara dan aksi dance mereka yang asli nggak bisa sebagus di video klip atau rekaman.

dampak negatif boyband dan girlband indonesia

Belakangan ini, di Indonesia mulai bermunculan boyband dan girlband, tentu saja hal ini membawa dampak positif dan negatif bagi peradaban bangsa kita. Disamping banyak pihak diuntungkan dengan kehadiran mereka tetapi ada beberapa hal yang kita lupakan dan ini sangat merugikan terutama bagi “ anak- anak “. 
Sobat blogger tentu sudah mengetahui bahwa selain BG ( Boyband dan Girlband ) anak muda , juga telah bermunculan BG anak – anak. Disinilah yang akan kita ulas tuntas mengenai dampak BG bagi anak-anak Indonesia. Di acara televisi saya kadang geli melihat anak yang baru lahir kemarin sudah bernyanyi “ lagu Lagu cinta- cinta –an ), mereka bernyanyi seolah olah paham dan merasakan sendiri apa yang mereka dan nyanyikan. Kita juga sangat merindukan lagu Anak – anak yang jarang sekali terdengar di telinga kita ? disadari atau tidak hal ini membawa efek yang negative bagi Anak anak Indonesia.

Dunia anak adalah Dunia untuk kita belajar dan bermain. Mereka punya tugas untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang banyak untuk bekal meraka ketika sudah dewasa,Namun apakah yang akan terjadi jika masa kecil mereka di sibukan dengan kegiatan Syuting? Konser kesana kemari ? sibuk mencari Uang. Memang mereka sudah bisa membantu orang tua mereka untuk mencari uang, tapi apakah mereka sudah Pantas?

Menurut saya, walaupun mereka belajar dan sekolah tetapi saya yakin dalam pikiran mereka mungkin hanya 10% saja pada pelajaran di sekolah. Bukan hanya itu saja, anak anak yang menonton Acara mereka juga akan ikut terbawa, karena masa kecil adalah masa meniru. Mereka akan meniru hal hal yang mereka sukai tanpa berpikir apakah baik atau tidak untuk meraka. Disinilah dibutuhkan peran dari kedua orang tua, orangtua harus bisa membatasi kebiasaan anak yang salah. Karena ini akan sangat berpengaruh di masa depan meraka kelak.

Tak bisa di pungkiri juga bahwa :

   " Dunia Hiburan lebih banyak di minati oleh masyarakat Indonesia dari pada Dunia pendidikan dan pengetahuan “

Masyarakat Indonesia lebih Suka tertawa dan menikmati hiburan daripada berpikir untuk mebuat Suatu perubahan, berpikir untuk membuat sebuah Inovasi. Pantas saja jika Negara kita banyak tertinggal oleh Negara lain.



tarian boyband indonesia

Siapa yang tidak kenal SM*SH? Boyband paling fenomenal dalam sejarah musik Indonesia, yang kini telah digandrungi oleh anak muda tanah air dan mampu menjadi inspirasi untuk boyband lainnya, hanya berkat satu single, I Heart You. SM*SH bukanlah perintis hadirnya boyband di belantika musik Indonesia karena sejak akhir 1980-an hingga pertengahan 1990-an, muncul beberapa boyband, sebut saja Trio Libels, FBI, dan boyband parodi, P Project. Selain itu, keenam pemuda Bandung bukan pula yang pertama merintis kehadiran kembali boyband di tanah air pada awal abad 21. Sebelumnya, di awal 2000-an saat semua stasiun TV berlomba-lomba menghadirkan kontes bakat, TPI (yg kini MNC TV) pernah membuat ajang pencarian bakat khusus untuk boyband dan di tahun 2008 hadir tiga saudara kembar blasteran Indonesia-Prancis, yang tergabung dalam Triniti, dengan single lawas Madu dan Racun. Namun, kedua asa itu belum mampu menghidupkan kembali dunia boyband Indonesia.
Secara umum, boyband adalah sekumpulan remaja pria (umumnya berjumlah 5 orang) yang tergabung dalam suatu band yang keseluruhan personelnya mampu bernyanyi, secara individu maupun berkelompok, tanpa harus memainkan alat musik. Konsep seperti ini pertama kali muncul pada dekade 1960 dengan melejitnya; The Jackson 5, The Osmonds, dan The Monkees. Pada saat itu ketiga boyband ini hadir dengan mengusung musik R&B, mampu menguasai tangga lagu Amerika Serikat berkat single demi single mereka dan menghasilkan album yang mampu mencapai penjualan multi-platinum. Akan tetapi, kejayaan mereka tak bertahan lama karena pada periode selanjutnya Rock and Roll merampas “kekuasaan” mereka lewat musik abadi dari Elvis Presley dan The Beatles.
Dekade 90-an menjadi awal era emas kelompok boyband di Negeri Paman Sam dan Eropa, terutama daerah kekuasaan Ratu Elizabeth. New Kids On The Block (NKOTB) dan Boyz II Men menjadi pencetus lahirnya generasi baru dalam genre musik yang dimainkan oleh boyband, bila NKOTB memadukan musik pop-dance dan sesekali ballad dengan tarian-tarian dalam aksi panggungnya—konsep seperti ini yang melahirkan demam boyband di seluruh dunia dalam satu dekade selanjutnya—yang mampu membuat penggemar histeris saat menyaksikan mereka. Sedangkan, Boyz II Men tetap di jalur Rhythm & Blues dengan campuran beberapa genre lainnya, seperti Pop, Folk ataupun Jazz, untuk aksi panggung mereka lebih “kalem”, tanpa memaketkan kelihaian gerak tubuh dan musik, dengan hanya berdiri nyaman sambil sesekali menggerakkan tubuh mengikuti irama musik bak penyanyi-penyanyi Opera. Untuk market target kedua band ini juga berbeda, NKOTB lebih kepada remaja (khususnya perempuan) dan Boyz II Men menjadikan orang-orang yang lebih dewasa sebagai sasaran utama pendengar mereka.

komentar han geng tentang boyband indonesia

Superstar asal China, Han Geng, ketika datang ke acara musik Dahsyat, RCTI, Kebon Jeruk, Kamis (22/9) banyak bercerita mengenai fansnya yang luar biasa di Indonesia, termasuk pendapatnya mengenai boyband dan gadis Indonesia.

"Saya sangat shock. Penggemar saya sangat banyak, saya merasa sangat surprise dan antusias yang begitu besar. Ke depannya, saya ingin lebih sering memperhatikan karya-karya saya di Indonesia," beber Han Geng yang dibantu oleh seorang translator tersebut.

Han Geng yang merupakan mantan member boyband pemimpin Korean Wave di dunia, Super Junior itu mengaku bahwa baginya fans Indonesia sangat luar biasa. Bahkan dibanding negara asalnya, China, ELF dan Gengfans di Indonesia begitu menakjubkan.

"Fans saya kebanyakan wanita, memang seperti itu di setiap negara. Satu-satunya yang membuat fans Indonesia berbeda bahkan dengan fans di China adalah mereka sangat antusias. Seperti saat saya landing dari pesawat, itu sebuah kejutan yang sangat besar," lanjutnya senang.

Sementara itu saat ditanya mengenai film MY KINGDOM, di mana dirinya harus beradu akting dengan aktris Taiwan yang melambung berkat serial Meteor Garden, Barbie Hsu, leader Super Junior M ini mengaku bahwa dengan adanya Barbie yang sudah banyak pengalaman di dunia akting, dirinya mendapatkan banyak bekal dan pembelajaran.

"Kalo soal boyband Indonesia, ya itu adalah hasil karya yang ada di Indonesia, meskipun itu masih baru. Tapi untuk ke depannya, masih perlu kerja keras lagi, supaya menghasilkan musik yang lebih baik lagi di Indonesia," tutup pria tampan ini.